The Impact of
Lighting System on Work Productivity of Employees
Pengaruh Sistem
Pencahayaan Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan
by:
Zalfa Khansa Amira
Program Studi D3 Bahasa
Inggris
Politeknik
Negeri Bandung
ABSTRACT
Lighting system greatly affects the condition of the office. The
lighting system is needed to
support employee activities in the office so that the
productivity of the employee can be maintained. Therefore, the lighting system in an office room needs
to be considered according to the standard. The right lighting system and
adequate lighting intensity will make the environment more comfortable and
enjoyable, giving rise to passion and enthusiasm and motivation to work. Office
with poor lighting will cause impaired vision, unclear vision, blurred and can
be blinding which results in eye fatigue, thus making work activities and
employee productivity disturbed. Therefore, the office manager must facilitate
the office with sufficient and adequate lighting intensity so that employees do
not experience eyestrain and employee work productivity will be maintained.
Keywords : lighting
system, employee’s eyes health, work productivity.
ABSTRAK
Sistem
pencahayaan sangat mempengaruhi kondisi kantor. Pencahayaan dibutuhkan untuk
mendukung aktivitas karyawan dalam kantor agar produktivitas karyawan terjaga.
Oleh karena itu, sistem pencahayaan dalam ruangan kantor perlu diperhatikan
sesuai dengan standar. Sistem pencahayaan yang tepat serta intensitas
penerangan yang memadai akan membuat lingkungan menjadi lebih nyaman dan
menyenangkan sehingga menimbulkan gairah dan semangat serta motivasi untuk
bekerja. Kantor dengan penerangan yang kurang baik akan menyebabkan penglihatan
terganggu, pandangan kurang jelas ,kabur dan dapat menyilaukan yang berakibat
pada kelelahan mata, sehingga membuat aktivitas bekerja dan produktivitas
karyawan terganggu. Oleh karena itu, pengelola kantor harus memfasilitasi
kantor dengan intensitas pencahayaan yang cukup dan memadai sehingga karyawan
tidak mengalami kelelahan mata dan produktivitas kerja karyawan akan terjaga.
Katakunci : sistem
pencahayaan, kesehatan
mata karyawan, produktivitas kerja.
1.
PENDAHULUAN/LATAR BELAKANG
Pencahayaan
adalah salah satu faktor penting yang memengaruhi kondisi kantor. Selain
sebagai faktor pendukung aktivitas karyawan dalam kantor, pencahayaan berguna
sebagai pembentuk estetika visual serta memberikan kenyamanan bagi karyawan.
Dengan sistem pencahayaan yang baik, karyawan yang bekerja di kantor dapat bekerja
dengan lebih produktif. Terlebih, sistem pencahayaan yang baik juga membantu
menciptakan suasana yang baik sehingga berpengaruh terhadap semangat bekerja
karyawan.
Sebaliknya,
pencahayaan yang kurang baik dapat berakibat buruk terhadap produktivitas kerja
karyawan. Pencahayaan yang kurang baik dapat membuat karyawan mengalami
kelelahan mata dan mengakibatkan menurunnya produktivitas kerja. Menurut
Pheasant (1991), kelelahan mata adalah ketegangan pada mata dan disebabkan oleh
penggunaan indera penglihatan dalam bekerja yang memerlukan kemampuan untuk
melihat dalam jangka waktu yang lama dan biasanya disertai dengan kondisi
pandangan yang tidak nyaman. Keluhan kelelahan
mata dapat menyebabkan sakit kepala, kerusakan alat penglihatan, juga
meningkatkan kemungkinan kecelakaan kerja.
Keluhan
kelelahan mata akibat pencahayaan yang kurang baik dapat berpengaruh pada
produktivitas kerja karyawan. Produktivitas berkaitan dengan rasio antara
keluaran (output) yang dihasilkan dengan masukan (input) dari sumber-sumber
yang digunakan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Karyawan dapat
menghasilkan produktivitas yang tinggi ketika mereka dapat menghasilkan produk
yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan dalam waktu yang singkat.
Ukuran produktivitas pada umumnya dapat dilihat dari banyaknya pekerjaan yang
dapat diselesaikan atau dengan kecepatan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Berdasarkan
kondisi tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh
pencahayaan terhadap produktivitas kerja karyawan.
1.2 Rumusan Masalah
Pokok
permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1.
Apakah
pencahayaan berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan?
2.
Seperti
apa pencahayaan yang baik dalam sebuah kantor?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah:
1.
Untuk
mengetahui pengaruh pencahayaan terhadap produktivitas kerja karyawan
2.
Untuk
mengetahui seperti apa pencahayaan yang baik dan benar dalam sebuah kantor.
1.4 Manfaat Penelitian
Sesuai
dengan tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang diharapkan dari penelitian
ini adalah sebagai bahan pertimbangan dan pembelajaran untuk pengelola kantor
dalam menetapkan pencahayaan yang baik.
2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pencahayaan
2.1.1
Pengertian
Pencahayaan Alami
Dora,
P dan Nilasari, P (2011) menyatakan bahwa pencahayaan alami adalah pemanfaatan
cahaya yang berasal dari benda penerang alam seperti matahari, bulan, dan
bintang sebagai penerang ruang. Karena berasal dari alam, cahaya alami bersifat
tidak menentu, tergantung pada iklim, musim, dan cuaca. Diantara seluruh sumber
cahaya alami, matahari memiliki kuat sinar yang paling besar sehingga
keberadaanya sangat bermanfaat dalam penerangan dalam ruang. Cahaya matahari
yang digunakan untuk penerangan interior disebut dengan daylight. Daylight
memiliki fungsi yang sangat penting dalam karya arsitektur dan interior.
2.1.1.2 Faktor Pencahayaan Alami.
Menurut
SNI No.03-2396-2001 Tentang tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami,
Faktor pencahayaan alami siang hari adalah perbandingan tingkat pencahayaan
pada suatu titik dari suatu bidang tertentu di dalam suatu ruangan terhadap
tingkat pencahayaan bidang datar di lapangan terbuka yang merupakan ukuran
kinerja lubang cahaya ruangan tersebut. Faktor pencahayaan alami siang hari terdiri
dari 3 komponen meliputi:
a.
Komponen
langit (faktor langit-fl) yakni komponen pencahayaan langsung dari cahaya
langit.
b.
Komponen
refleksi luar (faktor refleksi luar - frl) yakni komponen pencahayaan yang
berasal dari refleksi benda-benda yang berada di sekitar bangunan yang
bersangkutan.
c.
Komponen
refleksi dalam (faktor refleksi dalam frd) yakni komponen pencahayaan yang
berasal dari refleksi permukaan-permukaan dalam 9 ruangan, dari cahaya yang
masuk ke dalam ruangan akibat refleksi benda-benda di luar ruangan maupun dari
cahaya langit
2.1.2
Pengertian
Pencahayaan Buatan
Pencahayaan
buatan adalah pencahayaan yang berasal dari sumber cahaya buatan manusia yang
dikenal dengan lampu atau luminer. Pada cuaca yang kurang baik dan malam hari,
pencahayaan buatan sangat dibutuhkan. Perkembangan teknologi sumber cahaya
buatan memberikan kualitas pencahayaan buatan yang memenuhi kebutuhan manusia
(Lechner, 2001, p.472).
Pencahayaan
buatan diperlukan apabila:
a.
Keadaan
gelap karena malam hari telah tiba.
b.
Keadaan
gelap karena cuaca mendung
c.
keadaan
kurang terang karena sinar matahari terhalang gedung tinggi
d.
Letak
ruang jauh dari jendela
e.
Ruangan
perlu intensitas penerangan yang tinggi/rendah
f.
Arah
cahaya yang dikehendaki
g.
Diperlukan
warna cahaya tertentu
h.
Pencahayaan
alami tidak mencukupi kebutuhan
i.
Pencahayaan
alami tidak dapat menjangkau tempat tertentu
j.
Pencahayaan
merata pada ruangan yang lebar diperlukan.
Pencahayaan
buatan membutuhkan energi untuk diubah menjadi terang cahaya, sehingga
memerlukan biaya yang tinggi. Segi efisiensi menjadi pertimbangan yang sangat
penting selain menjadikan pencahayaan buatan sesuai dengan kebutuhan manusia.
Pencahayaan buatan yang efisien mempunyai fokus kepada pemenuhan pencahayaan
pada bidang kerja. Satwiko (2004, p.78) menyatakan pentingnya mengarahkan
cahaya ke titik yang membutuhkan pencahayaan sebagai prioritas.
2.2
Pengertian
Produktivitas
Banyak
faktor yang dapat menentukan produktivitas tenaga kerja. Beberapa faktor yang
sangat penting berperanan diantaranya adalah kualitas fisik dan non fisik
tenaga kerja, teknologi dan lingkungan kerja (Grandjean, 1988; Manuaba, 1992).
Kualitas fisik pada tenaga kerja adalah sangat tergantung dari kesehatan, gizi,
serta kebugaran jasmani. Kualitas non fisik meliputi kemampuan intelegensia,
moral, semangat, dan ketahanan mental. Teknologi menyangkut peralatan dan
metode kerja atau perlengkapan kerja yang dipergunakan. Sedangkan lingkungan
kerja di antaranya meliputi lingkungan biologis maupun lingkungan psikososial
termasuk “reward and punishment” di tempat kerja.
Menurut
Sedarmayanti (1996) produktivitas adalah sikap mental (attitude of mind) yang
mempunyai semangat untuk melakukan peningkatan perbaikan. Secara umum
produktivitas mengandung pengertian perbandingan terbalik antara hasil yang
dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input).
Perbandingan tersebut berubah dari waktu ke waktu karena dipengaruhi oleh
tingkat pendidikan, disiplin kerja, ketrampilan, sikap kerja, motivasi,
lingkungan kerja, dan lain-lain. Faktorfaktor tersebut di atas besar artinya
bagi penciptaan suasana kerja yang ergonomis, untuk menunjang tercapainya
efisiensi di dalam proses yang telah memenuhi batasan standard produktivitas.
Produktivitas
dikatakan meningkat apabila:
-Volume
atau kuantitas keluaran bertambah besar, tanpa menambah jumlah masukan.
-Volume
atau kuantitas keluaran tidak bertambah, akan tetapi masukannya berkurang.
-Volume
atau kuantitas keluaran bertambah besar sedangkan masukannya berkurang.
-Jumlah
masukan bertambah, asalkan volume atau kuantitas keluaran bertambah berlipat
ganda.
Produktivitas
bukan semata-mata ditujukan untuk mendapatkan hasil kerja yang
sebanyak-banyaknya, melainkan kualitas kerja juga penting diperhatikan.
Produktivitas individu dapat dinilai dari apa yang dilakukan oleh individu
tersebut dalam kerjanya, atau produktivitas individu adalah bagaimana seseorang
melaksanakan pekerjaannya atau kinerjanya. Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa
desain interior dalam mengerjakan tugas menggambar, bagaimana seorang mahasiswa
dapat melaksanakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya dan kualitas kerja dapat
ditingkatkan, serta dapat mencapai produktivitas kerja setinggi-tingginya
Dua
faktor utama yang mnentukan produktivitas yaitu:
1.
Faktor
teknis
2.
Faktor
manusia
Faktor
teknis berkaitan dengan penggunaan dan penerapan fasilitas produksi secara
lebih baik, penerapan metode kerja yang lebih efektif dan efisien, dan atau
penggunaan bahan baku yang lebih ekonomis.
Faktor
manusia mempunyai pengaruh terhadap usaha-usaha yang dilakukan manusia dalam
menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Disini ada
dua hal pokok yang menentukan, yaitu kemampuan kerja (ability) pekerja itu
sendiri dan motivasi kerja yang merupakan pendorong ke arah kemajuan dan
peningkatan prestasi kerja seseorang.
Dari
seluruh faktor yang disebutkan di atas, pada aktivitas kantor yang memerlukan
kejelian dan ketelitian, penerangan buatan adalah suatu hal yang mudah
dilakukan dan sangat tampak nyata manfaatnya. Dengan memperbaiki penerangan
buatan kearah yang lebih baik, maka produktivitas kerja dapat ditingkatkan.
Penerangan yang sesuai dengan kebutuhan pemakai akan dapat meningkatkan
kenyamanan dan efektifitas kerja yang akhirnya akan dapat meningkatkan
produktivitas kerja. Dengan memperbaiki penerangan buatan dalam hal ini
menambahkan penerangan lokal akan dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
3.
PEMBAHASAN
3.1
Keterkaitan Sistem
Pencahayaan dan Produktivitas Kerja Karyawan
Sistem
pencahayaan atau penerangan dengan intensitas yang rendah akan menyebabkan
kelelahan mata, keluhan pegal disekitar mata, dan sakit kepala. Sebaliknya,
apabila sistem pencahayaan atau penerangan intensitasnya terlalu tinggi, maka
hal ini juga akan menyebabkan kesilauan yang akan mengganggu aktivitas kerja
karyawan. Maka dari itu, sistem pencahayaan atau penerangan dengan intensitas
yang cukup dan memadai perlu diupayakan.
Faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap sistem pencahayaan di tempat kerja antara lain:
- Ukuran ruangan :
Ukuran ruangan yang luas akan lebih efisien dalam pemanfaatan cahaya
daripada ruang yang sempit.
- Kontras :
Perbedaan antara kecerahan benda yang kita lihat dengan kecerahan
permukaan di sekitarnya. Semakin besar kontras, semakin mudah kita melihat
atau mengenali benda tersebut.
Di ruang dengan tingkat penerangan rendah, kontras semakin berkurang
pula.
- Luminensi (luminance) :
Intensitas cahaya yang dipancarkan, dipantulkan, dan diteruskan oleh satu
unit bidang yang diterangi. Luminensi yang terlalu besar akan menimbulkan
kesilauan pada mata.
- Ketajaman penglihatan :
Kemampuan mata untuk membedakan bagian detail dari objek permukaan yang
halus. Ketajaman penglihatan akan bertambah bersamaan dengan meningkatnya
perbedaan luminensi antara objek dan lingkungan sekitar. Ketajaman
penglihatan akan lebih baik jika objek yang diamati berwarna gelap dan
latar belakangnya berwarna terang.
Sistem pencahayaan harus diatur dan
disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dilakukan sehingga kesehatan mata dari
para karyawan dapat terjaga dengan baik dan motivasi kerja dapat meningkat.
Penerangan yang memadai dapat memudahkan para karyawan untuk melakukan
aktivitas pekerjaannya tanpa harus melakukan upaya berlebih terutama dalam kegiatan
melihat objek pekerjaannya.
Menurut
Santoso (2004), pengendalian yang dapat dilakukan untuk menanggulangi masalah
penerangan di tempat kerja terdapat dua macam, yaitu:
-Secara
teknis : Peningkatan
kebersihan instalasi penerangan tempat kerja termasuk lampu, pengaturan warna
dan dekorasi tempat kerja, pemanfaatan cahaya alami semaksimal mungkin, dan
-Secara
administrative : Pemeriksaan kesehatan
mata seperti pemeriksaan sebelum kerja, berkala, maupun pemeriksaan khusus.
4.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari pembahasan studi ini yaitu intensitas penerangan yang mayoritas tidak memenuhi standar memiliki
hubungan yang sangat kuat dengan timbulnya kelelahan mata dan membuat
produktivitas kerja menjadi menurun.
Saran penulis pada setiap
pengelola kantor untuk meningkatkan kebersihan instalasi penerangan tempat
kerja (termasuk lampu), melakukan pengaturan warna dan dekorasi tempat kerja,
pemanfaatan cahaya alami semaksimal mungkin, serta melakukan pemeriksaan mata ke
dokter mata secara teratur untuk karyawan agar produktivitas karyawan tetap
terjaga.
Daftar Pustaka
Dora, P. E., & Nilasari, P. F. (2011). Pemanfaatan
Pencahayaan Alami Pada Rumah Tinggal.
Gempur, S. (2004). Manajemen Keselamatan & Kesehatan
Kerja. Surabaya: Prestasi Pustaka.
Grandjean, E. (1988). Fitting the Task To the Man.
London: Taylor & Francis.
Lechner, N. (2001). Heating, Cooling, Lighting, Design
Methods for Architects.
Pheasant, S. (1991). Ergonomics, Work and Health.
Maryland: Aspen: Publisher, Inc.
Satwiko. (2004). Prasasto Fisika Bangunan Edisi 1.
Yogyakarta: ANDI.
Sedarmayanti. (1996). Tata Kerja dan Produktivitas Kerja.
Bandung: CV. Mandar Maju.
Subaris, H., & Haryono. (2007). Hygiene Lingkungan
Kerja. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Suma'mur. (2009). Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja
(HIPERKES). Jakarta: Sagung Seto.
PENGECEKAN PLAGIARISME

Comments
Post a Comment